ArokaGO
  • Komunitas
BerandaPenyediaKomunitas

Perusahaan

ArokaGO

Platform wisata medis terpercaya Anda. Terhubung dengan penyedia layanan kesehatan kelas dunia di Thailand.

Apple StoreGoogle Play
FacebookInstagramYouTubeTikTokLinkedInRahu

Untuk Pasien

  • Dasbor
  • Cari Penyedia
  • Masuk
  • Daftar sebagai Pasien
  • Pesan Janji Temu

Untuk Penyedia

  • Dasbor
  • Janji Temu
  • Obrolan
  • Masuk
  • Bergabung sebagai Penyedia

Hubungi Kami

  • Bangkok, Thailand
  • +66 65 829 4562
  • contact@arokago.com

Hukum

  • Penafian
  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Ulasan
  • Periklanan

© 2026 ArokaGO. Semua hak dilindungi.

  1. Artikel
  2. Health
  3. Mudah Emosi? Anda Mungkin Berisiko Mengalami Pembuluh Darah Otak yang Pecah

Mudah Emosi? Anda Mungkin Berisiko Mengalami Pembuluh Darah Otak yang Pecah

VVidé Hospitalon July 14, 2026baca 3 menit
Mudah Emosi? Anda Mungkin Berisiko Mengalami Pembuluh Darah Otak yang Pecah

Banyak orang pernah mendengar ungkapan "begitu marah hingga pembuluh darah di otak pecah" dan mengira itu hanya kiasan. Pada kenyataannya, kemarahan yang intens dapat memicu stroke hemoragik (pembuluh darah pecah), terutama pada individu yang sudah memiliki tekanan darah tinggi.
Dr. Pracha membagikan kasus seorang pasien laki-laki berusia 55 tahun yang sedang memarahi bawahannya dengan sangat marah sebelum tiba-tiba pingsan dan kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya tidak mampu berbicara, dan lengan serta kaki kanannya lemah.
Hasil pemindaian CT mengungkapkan adanya pembuluh darah yang pecah di hemisfer kiri otaknya.
 

Mengapa Kemarahan Dapat Menyebabkan Pembuluh Darah di Otak Pecah?

Saat kemarahan atau stres berat terjadi, tubuh melepaskan hormon adrenalin dalam jumlah besar.

Hormon ini menyebabkan:

- Jantung berdetak lebih cepat

- Tekanan darah meningkat tajam

- Pembuluh darah menyempit

Jika pembuluh darah sudah rapuh, terutama pada pasien dengan hipertensi, dinding pembuluh darah mungkin tidak mampu menahan tekanan dan akhirnya pecah.
 

Tekanan Darah Tinggi dan Sudah Minum Obat-Mengapa Masih Berisiko?

Banyak orang salah paham bahwa minum obat tekanan darah setiap hari membuat mereka sepenuhnya aman. Namun, kenyataannya adalah bahkan dengan konsumsi obat yang konsisten, stres yang menumpuk atau kemarahan yang hebat dapat menyebabkan tekanan darah melonjak jauh melampaui kemampuan obat untuk mengendalikannya.

Selain itu, stres menyebabkan tubuh melepaskan hormon kortisol, sehingga pengelolaan tekanan darah menjadi semakin sulit.
 

Tanda Peringatan yang Tidak Boleh Diabaikan

Jika salah satu gejala berikut terjadi, Anda harus segera pergi ke rumah sakit:

- Bicara pelo atau tidak mampu berbicara

- Wajah menurun sebelah

- Kelemahan pada satu sisi wajah, lengan, atau kaki

- Pusing, kehilangan keseimbangan, atau kesulitan berjalan

- Sakit kepala hebat yang mendadak

- Kehilangan kesadaran

Setiap menit sangat berharga, karena penanganan cepat mengurangi kecacatan dan meningkatkan peluang pemulihan.
 

Cara Mengurangi Risiko Pecahnya Pembuluh Darah Otak

Dr. Pracha merekomendasikan bahwa selain minum obat sesuai resep, menjaga kesehatan mental dan mengendalikan emosi juga sama pentingnya.

1. Pantau Tekanan Darah Secara Teratur

Terutama bagi individu yang mudah tersinggung, stres, atau mudah marah.

2. Cari Cara untuk Mengelola Stres

Seperti:

 - Meditasi

 - Latihan pernapasan dalam

 - Istirahat yang cukup

 - Melakukan aktivitas yang menenangkan

3. Berolahraga Secara Teratur

Olahraga teratur membantu untuk:

 - Meningkatkan elastisitas pembuluh darah

 - Menurunkan tekanan darah

 - Mengurangi risiko penyempitan dan pecahnya pembuluh darah

 - Merangsang pelepasan endorfin, meningkatkan suasana hati dan menurunkan stres

Mengetahui Lebih Awal Adalah Mencegah

Dalam banyak kasus, stroke tidak terjadi begitu saja "tanpa sebab."
Sebaliknya, kondisi ini merupakan akibat dari faktor risiko yang menumpuk dalam jangka panjang, termasuk hipertensi, diabetes, kolesterol darah tinggi, stres, dan kebiasaan gaya hidup.
Pemeriksaan skrining risiko sebelum gejala muncul memungkinkan perencanaan pencegahan sebelum kelumpuhan atau pecahnya pembuluh darah otak terjadi.

 

 

Referensi:

Vidé Hospital Mudah Marah? Anda Mungkin Berisiko Mengalami Pecahnya Pembuluh Darah Otak

Penyedia ArokaGO Vidé Hospital

V
Vidé Hospital

Vidé Hospital

Bagikan artikel ini

Pada halaman ini
  • Mengapa Kemarahan Dapat Menyebabkan Pembuluh Darah di Otak Pecah?
  • Saat kemarahan atau stres berat terjadi, tubuh melepaskan hormon adrenalin dalam jumlah besar.
  • Tekanan Darah Tinggi dan Sudah Minum Obat-Mengapa Masih Berisiko?
  • Tanda Peringatan yang Tidak Boleh Diabaikan
  • Cara Mengurangi Risiko Pecahnya Pembuluh Darah Otak
  • 1. Pantau Tekanan Darah Secara Teratur
  • 2. Cari Cara untuk Mengelola Stres
  • 3. Berolahraga Secara Teratur
  • Mengetahui Lebih Awal Adalah Mencegah

Bagikan artikel ini

V
Vidé Hospital

Vidé Hospital

Artikel Lainnya

Temukan lebih banyak wawasan tentang perawatan kesehatan dan wisata medis.

Apakah Kemoterapi Benar-Benar Berbahaya?
Health

Apakah Kemoterapi Benar-Benar Berbahaya?

Kemajuan dalam pengobatan kanker telah secara signifikan meningkatkan keamanan dan efektivitas kemoterapi. Kemoterapi saat ini digunakan untuk pengobatan kanker, pengendalian penyakit, pencegahan kekambuhan, dan perawatan paliatif, sekaligus mengurangi risiko efek samping terkait pengobatan.

HealthJul 14, 2026
Merokok, Kanker Paru, dan Bahaya Kesehatan Terkait Tembakau yang Perlu Anda Ketahui
Health

Merokok, Kanker Paru, dan Bahaya Kesehatan Terkait Tembakau yang Perlu Anda Ketahui

Setiap menit, enam orang meninggal akibat penyakit terkait tembakau di seluruh dunia Di Thailand, penyakit terkait tembakau merenggut sekitar 19.542 jiwa setiap tahun. Secara global, penggunaan tembakau menyebabkan sekitar 54.512 kematian setiap hari.

HealthJul 14, 2026
Mengapa Tubuh Pulih Lambat Meski Anda Sudah Mendapatkan Cukup?
Health

Mengapa Tubuh Pulih Lambat Meski Anda Sudah Mendapatkan Cukup?

Jawaban Terletak pada 3 Sistem Internal Kelelahan yang terus-menerus dan seolah tidak pernah hilang sering kali disebabkan oleh hal-hal yang lebih dari sekadar kurang tidur. Di era ketika semuanya bergerak lebih cepat, beban kerja yang lebih berat, konsumsi makanan olahan yang tak terhindarkan, serta paparan polusi yang lebih tinggi, tubuh kita menghadapi beban yang lebih besar berupa penumpukan limbah dan peradangan diam-diam—lebih dari sebelumnya.

HealthJul 14, 2026