Mata dan Ginjal: Komplikasi Diam-diam dari Diabetes

Oleh karena itu, skrining rutin, pencegahan, dan pengobatan dini sangat penting untuk memperlambat progresi penyakit dan mengurangi risiko kerusakan organ permanen.
Retinopati Diabetik
Retinopati diabetik terjadi ketika kadar glukosa darah yang tinggi secara persisten merusak pembuluh darah kecil di retina, yaitu jaringan peka cahaya di bagian belakang mata.
Kondisi ini dapat berkembang secara bertahap tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.
Retinopati Diabetik Non-Proliferatif
Retinopati diabetik non-proliferatif, atau NPDR, adalah tahap awal penyakit ini. Kondisi ini dapat diklasifikasikan sebagai:
๐ Ringan
๐ Sedang
๐ Berat
Pada tahap ini, pembuluh darah retina dapat melemah, bocor cairan, atau mengalami area perdarahan kecil.
Retinopati Diabetik Proliferatif
Retinopati diabetik proliferatif, atau PDR, adalah bentuk kondisi yang lebih lanjut.
Pembuluh darah baru yang abnormal tumbuh di retina. Pembuluh ini rapuh dan dapat menyebabkan:
๐ Perdarahan ke dalam gel vitreus di dalam mata
๐ Perdarahan di depan retina
๐ Pembentukan jaringan parut
๐ Ablasio retina
๐ Kehilangan penglihatan berat atau permanen
Skrining Retina yang Direkomendasikan
Penderita Diabetes Tipe 1
Penderita diabetes tipe 1 umumnya harus menjalani pemeriksaan retina komprehensif dalam waktu lima tahun sejak diagnosis.
Pemeriksaan lanjutan harus dilakukan sesuai rekomendasi dokter spesialis mata atau setidaknya sekali setahun.
Penderita Diabetes Tipe 2
Penderita diabetes tipe 2 harus menjalani pemeriksaan retina segera setelah diagnosis karena kadar glukosa darah yang tinggi mungkin telah ada selama beberapa waktu sebelum diabetes terdeteksi.
Pemeriksaan tindak lanjut harus dilakukan sesuai rekomendasi dokter atau setidaknya setiap tahun.
Wanita Hamil dengan Diabetes
Wanita yang sudah menderita diabetes dan kemudian hamil harus menjalani pemeriksaan retina:
๐ Segera setelah kehamilan dikonfirmasi
๐ Dalam tiga bulan pertama kehamilan
๐ Pada interval tambahan yang direkomendasikan oleh dokter spesialis mata
Kehamilan dapat mempercepat retinopati diabetik pada beberapa pasien, sehingga pemantauan ketat menjadi sangat penting.
Mencegah dan Mengelola Penyakit Mata Diabetik
Mengontrol Glukosa Darah
Menjaga glukosa darah sedekat mungkin dengan rentang target individu secara aman dapat mengurangi risiko terjadinya retinopati dan memperlambat progresinya.
Target umum dapat mencakup:
๐ Glukosa darah sebelum makan di bawah sekitar 130 mg/dL
๐ Glukosa darah setelah makan di bawah sekitar 180 mg/dL
Target harus dipersonalisasi sesuai usia, kondisi kesehatan, kehamilan, obat-obatan, dan risiko hipoglikemia.
Mengontrol Tekanan Darah
Tekanan darah harus diukur secara teratur dan dipertahankan dalam target yang direkomendasikan oleh dokter.
Target yang umum digunakan adalah sekitar di bawah 130/80 mmHg, meskipun sasaran yang paling sesuai dapat berbeda pada setiap pasien.
Mengelola Lipid Darah
Kadar kolesterol yang abnormal dapat berkontribusi terhadap kerusakan pembuluh darah.
Target kolesterol LDL yang umum dirujuk adalah di bawah 100 mg/dL, tetapi orang dengan penyakit kardiovaskular atau risiko sangat tinggi mungkin memerlukan target individu yang lebih rendah.
Mendapatkan Pengobatan pada Waktu yang Tepat
Tergantung pada stadium retinopati diabetik, terapi dapat meliputi:
๐ Terapi laser
๐ Obat yang disuntikkan ke mata
๐ Operasi untuk perdarahan berat atau ablasio retina
Mendapatkan pengobatan pada stadium yang tepat dapat membantu mencegah atau mengurangi kehilangan penglihatan.
Tanda Peringatan yang Memerlukan Perhatian Medis
Penderita diabetes harus segera menghubungi dokter spesialis mata jika mengalami:
๐ Penglihatan kabur atau menurun
๐ Perubahan penglihatan yang mendadak
๐ Bintik gelap atau benda melayang di lapang pandang
๐ Kilatan cahaya
๐ Tirai gelap atau bayangan yang menutupi sebagian penglihatan
๐ Kehilangan penglihatan mendadak
Retinopati diabetik dapat tetap tanpa gejala hingga menjadi lanjut, sehingga penglihatan normal tidak berarti skrining dapat diabaikan.
Penyakit Ginjal Diabetik
Penyakit ginjal diabetik berkembang ketika glukosa darah tinggi secara bertahap merusak pembuluh darah kecil dan struktur penyaring di dalam ginjal.
Perkembangan dan progresinya berhubungan dengan:
๐ Kontrol glukosa darah yang buruk
๐ Tekanan darah tinggi
๐ Faktor genetik
๐ Lama menderita diabetes
๐ Merokok
๐ Kadar kolesterol abnormal
Pada tahap awal, penyakit ginjal diabetik mungkin tidak menimbulkan gejala yang jelas.
Mendeteksi Penyakit Ginjal Diabetik
Salah satu tanda paling awal adalah jumlah albumin, suatu jenis protein, yang abnormal dalam urine. Kondisi ini dikenal sebagai albuminuria.
Skrining ginjal dapat meliputi:
๐ Tes albumin urine
๐ Rasio albumin terhadap kreatinin urine
๐ Pemeriksaan kreatinin darah
๐ Laju filtrasi glomerulus estimasi, atau eGFR
Bersama-sama, tes ini membantu menilai apakah ginjal mengalami kebocoran protein dan seberapa efektif ginjal menyaring darah.
Skrining Ginjal yang Direkomendasikan
Penderita diabetes harus menjalani skrining ginjal sesuai rekomendasi dokter atau setidaknya sekali setahun.
Pemantauan yang lebih sering mungkin diperlukan untuk pasien yang sudah memiliki:
๐ Albumin dalam urine
๐ Fungsi ginjal menurun
๐ Tekanan darah tinggi
๐ Penyakit kardiovaskular
๐ Perubahan cepat pada hasil tes ginjal
Mencegah dan Mengelola Penyakit Ginjal Diabetik
Sebelum Protein Terdeteksi dalam Urine
Ketika tidak terdeteksi albumin, tujuan utama adalah menjaga glukosa darah sedekat mungkin dengan rentang target secara aman.
Langkah penting lainnya meliputi:
๐ Mengendalikan tekanan darah
๐ Mengelola kolesterol
๐ Menghindari merokok
๐ Mempertahankan berat badan tubuh yang sehat
๐ Menjalani skrining ginjal secara teratur
Ketika Protein Terdeteksi dalam Urine
Ketika albuminuria ada, pengendalian ketat terhadap glukosa darah dan tekanan darah menjadi sangat penting.
Target tekanan darah sekitar di bawah 130/80 mmHg dapat direkomendasikan untuk beberapa pasien, tergantung pada kondisi keseluruhan mereka.
Dokter juga dapat meresepkan obat untuk melindungi fungsi ginjal dan mengurangi kebocoran protein bila secara klinis sesuai.
Temuan Skrining di Bangkok Hospital Phuket
Berdasarkan statistik skrining yang diberikan untuk pasien diabetes yang mendapatkan perawatan di Bangkok Hospital Phuket:
๐ 27,74% ditemukan memiliki kelainan mata.
๐ 21,74% ditemukan memiliki kelainan ginjal.
Temuan ini menunjukkan seberapa sering komplikasi diabetes dapat terdeteksi selama skrining, bahkan ketika pasien belum menyadari gejala yang jelas.
Melindungi Mata dan Ginjal
Penyakit mata dan ginjal diabetik sering digambarkan sebagai komplikasi diam-diam karena dapat berkembang tanpa tanda peringatan yang jelas.
Penderita diabetes harus:
๐ Menjaga kontrol glukosa darah yang baik.
๐ Memantau tekanan darah dan kolesterol.
๐ Menjalani pemeriksaan retina pada interval yang direkomendasikan.
๐ Melakukan tes urine dan fungsi ginjal secara teratur.
๐ Menghindari merokok.
๐ Mengonsumsi obat yang diresepkan secara konsisten.
๐ Segera mencari pertolongan medis ketika penglihatan atau gejala kemih berubah.
Skrining dini dan pengobatan yang sesuai dapat membantu mempertahankan penglihatan, melindungi fungsi ginjal, dan mengurangi risiko disabilitas serta komplikasi serius lainnya.
Referensi :
Penulis Independen
Bagikan artikel ini
Artikel Lainnya
Temukan lebih banyak wawasan tentang perawatan kesehatan dan wisata medis.

Lima Metode untuk Mencegah Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut
Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut Penyakit tangan, kaki, dan mulut (HFMD) adalah penyakit umum pada anak-anak kecil, terutama mereka yang menghadiri pusat penitipan anak atau taman kanak-kanak, di mana virus dapat menyebar dengan mudah. Cara penularan utama adalah kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.

Enam Penyakit Mata Umum pada Lansia
Mata adalah salah satu organ yang mengalami kemunduran seiring bertambahnya usia. Penglihatan umumnya mulai menurun saat seseorang semakin tua, terutama setelah usia 40 tahun. Oleh karena itu, pemeriksaan mata secara teratur disarankan setidaknya satu kali dalam setahun.

Pneumonitis
Pneumonitis adalah infeksi yang menyebabkan peradangan pada kantung udara dan jaringan di salah satu atau kedua paru-paru. Infeksi ini dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur.