Obstruksi Usus: Apa Penyebabnya?

Apa Penyebab Obstruksi Usus?
Obstruksi usus dapat dibagi menjadi dua kategori utama: obstruksi non-mekanik dan obstruksi mekanik.
1. Obstruksi Non-Mekanik (Ileus Paralitik)
Obstruksi non-mekanik terjadi ketika usus tidak berfungsi normal dan tidak dapat berkontraksi secara efektif untuk mendorong isinya ke depan.
Penyebab yang mungkin meliputi:
-
Peradangan usus, seperti apendisitis, kolitis kronis, atau divertikulitis.
-
Gangguan neurologis dan muskular, seperti paralisis atau penyakit Parkinson.
-
Obat-obatan tertentu, termasuk antidepresan dan analgesik opioid.
-
Ketidakseimbangan elektrolit, seperti kadar kalium darah yang rendah.
-
Kondisi yang terjadi setelah operasi abdominal.
2. Obstruksi Mekanik
Obstruksi mekanik terjadi ketika sumbatan fisik mencegah isi usus melewati saluran pencernaan.
Penyebab yang mungkin meliputi:
-
Adhesi abdomen yang berkembang setelah operasi abdominal atau pelvis.
-
Hernia.
-
Kanker abdomen, seperti kanker kolorektal atau kanker pelvis.
-
Intususepsi, suatu kondisi ketika satu bagian usus meluncur ke dalam bagian lainnya.
-
Volvulus, suatu kondisi ketika usus terpuntir pada dirinya sendiri.
-
Konstipasi berat.
-
Batu empedu yang masuk dan menyumbat usus.
-
Benda asing yang tersangkut di dalam usus.
Apa Gejala Obstruksi Usus?
Gejala umum obstruksi usus meliputi:
-
Nyeri abdominal yang dapat muncul mendadak atau terjadi sebagai kram berat yang hilang timbul.
-
Kembung dan distensi abdominal.
-
Mual dan muntah.
-
Konstipasi, tidak dapat buang air besar, atau tidak dapat buang angin.
-
Diare atau feses cair pada kasus obstruksi usus parsial.
-
Benjolan atau massa yang teraba di abdomen.
Bagaimana Obstruksi Usus Didiagnosis?
Untuk mendiagnosis obstruksi usus, dokter akan meninjau riwayat medis pasien dan melakukan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan diagnostik tambahan dapat meliputi:
-
Rontgen abdomen.
-
Computed tomography (CT scan) abdomen.
-
USG abdomen.
-
Pemeriksaan enema barium.
-
Kolonoskopi atau pemeriksaan kolon dan rektum.
Pemeriksaan yang sesuai tergantung pada gejala pasien dan penilaian dokter.
Bagaimana Obstruksi Usus Diobati?
Pengobatan bergantung pada lokasi dan penyebab dasar obstruksi.
Pendekatan terapi dapat dibagi menjadi dua kategori utama.
1. Pengobatan Spesifik
Pengobatan spesifik berfokus pada penanganan penyebab dasar obstruksi usus.
Bergantung pada kondisinya, pengobatan dapat meliputi:
-
Obat-obatan untuk mengobati peradangan usus.
-
Obat-obatan untuk merangsang pergerakan usus.
-
Operasi untuk mengangkat adhesi abdomen.
-
Pengangkatan bedah pada bagian usus yang sakit.
-
Pengeluaran material atau benda yang menyebabkan obstruksi.
-
Pemasangan stent usus untuk melebarkan bagian usus yang menyempit.
2. Terapi Suportif
Terapi suportif membantu meredakan gejala, menjaga keseimbangan cairan, dan mencegah komplikasi.
Tindakan yang umum dilakukan meliputi:
-
Menghindari makanan dan cairan oral untuk sementara sesuai arahan tim kesehatan.
-
Memasang selang nasogastrik melalui hidung untuk mengeluarkan udara dan cairan dari lambung, sehingga membantu meredakan nyeri abdominal dan kembung.
-
Memberikan cairan intravena dan elektrolit untuk memperbaiki ketidakseimbangan dan mencegah dehidrasi.
Referensi :
Rumah Sakit Synphaet Ramintra – Obstruksi Usus: Apa Penyebabnya?
Penulis Independen
Bagikan artikel ini
Artikel Lainnya
Temukan lebih banyak wawasan tentang perawatan kesehatan dan wisata medis.

6 Tren Kesehatan Pria untuk 2026: Era Baru Perawatan Kesehatan yang Dipersonalisasi
Tren kesehatan pria pada tahun 2026 bergerak melampaui rutinitas perawatan diri dasar seperti makan dengan baik, berolahraga secara teratur, atau tidur delapan jam. Sebaliknya, fokusnya bergeser menuju perawatan kesehatan yang lebih personal, berkelanjutan, dan holistik.
My Child Keeps Sucking Their Thumb: What Should Parents Do?
Thumb sucking is a natural part of development in infants and young children. Babies and toddlers often suck their thumbs, fingers, or other objects to feel comfortable, warm, and secure.

What Causes Hiccups in Babies? How to Stop
Baby hiccups are common, especially in newborns and infants under one year old. But what causes them, are they dangerous, and how can parents help?