ArokaGO
  • Komunitas

Perusahaan

ArokaGO

Platform wisata medis terpercaya Anda. Terhubung dengan penyedia layanan kesehatan kelas dunia di Thailand.

Apple StoreGoogle Play
FacebookInstagramYouTubeTikTokLinkedInRahu

Untuk Pasien

  • Dasbor
  • Cari Penyedia
  • Masuk
  • Daftar sebagai Pasien
  • Pesan Janji Temu

Untuk Penyedia

  • Dasbor
  • Janji Temu
  • Obrolan
  • Masuk
  • Bergabung sebagai Penyedia

Hubungi Kami

  • Bangkok, Thailand
  • +66 65 829 4562
  • contact@arokago.com

Hukum

  • Penafian
  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Ulasan
  • Periklanan

© 2026 ArokaGO. Semua hak dilindungi.

  1. Artikel
  2. Pengetahuan
  3. Mengapa Kanker Usus Besar dan Rektum Semakin Meningkat di Kalangan Muda?

Mengapa Kanker Usus Besar dan Rektum Semakin Meningkat di Kalangan Muda?

TThonburi Rajyindee Hospitalon March 16, 2026baca 4 menit
Mengapa Kanker Usus Besar dan Rektum Semakin Meningkat di Kalangan Muda?

 Mengapa Kanker Kolorektal Meningkat di Kalangan Usia Muda? Kebiasaan Kecil Sehari-hari yang Diam-diam Meningkatkan Risiko

 Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat tren yang terlihat bahwa rata-rata usia pasien kanker kolorektal semakin muda. Banyak kasus kini ditemukan pada individu usia akhir 20-an hingga awal 30-an, bahkan di antara mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga kanker kolorektal, tidak obesitas, dan bukan peminum alkohol berat.

     Namun, jika menelaah perilaku gaya hidup lebih mendalam, menjadi jelas bahwa beberapa kebiasaan yang umum dilakukan oleh generasi muda—sering kali dianggap normal—dapat secara perlahan meningkatkan risiko kanker kolorektal seiring waktu.

 

1. Konstipasi Kronis yang Dianggap Normal

     Banyak orang tidak buang air besar setiap hari, mengeluarkan feses keras, merasa pengosongan belum tuntas, atau hanya buang air besar 2–3 kali per minggu tanpa menganggapnya sebagai masalah. Kenyataannya, ketika feses terlalu lama berada di usus besar, lapisan usus terpapar racun dan karsinogen potensial lebih lama. Hal ini dapat meningkatkan risiko inflamasi kronis dan berkontribusi pada mutasi sel dalam jangka panjang.

 

2. Asupan Serat Rendah Namun Sering Konsumsi Makanan Olahan

     Kebiasaan makan dalam gaya hidup modern sering kali meliputi camilan, produk bakery, sosis, daging panggang, shabu, dan minuman manis, sementara konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian utuh relatif rendah.

Serat makanan berperan penting dalam meningkatkan volume feses, merangsang pergerakan usus, dan mengurangi waktu kontak karsinogen potensial dengan dinding usus. Sementara itu, daging olahan dan beberapa makanan olahan tertentu mengandung zat yang menurut penelitian berhubungan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal.

 

3. Gaya Hidup Sedenter dan Aktivitas Fisik Terbatas

     Waktu duduk lama di kantor, berjam-jam di depan layar, dan kurang berolahraga secara teratur dapat mengurangi motilitas usus. Ini memperlambat pergerakan usus dan dapat menyebabkan konstipasi kronis.

Penelitian menunjukkan individu dengan tingkat aktivitas fisik rendah berisiko lebih tinggi terkena kanker kolorektal dibanding mereka yang rutin bergerak. Aktivitas fisik membantu merangsang fungsi usus dan mendukung sistem imun dalam saluran cerna.

 

4. Sering Mengabaikan Dorongan Buang Air Besar

     Banyak orang merasakan dorongan buang air besar namun memilih menundanya karena tidak nyaman atau sibuk dengan pekerjaan. Menahan dorongan ini berulang kali dapat mengganggu ritme alami fungsi usus. Seiring waktu, ini dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai penurunan responsivitas usus, menghasilkan feses lebih keras, retensi feses lebih lama, dan meningkatkan iritasi pada lapisan usus.

5. Kesalahpahaman Bahwa Usia Muda Tidak Perlu Skrining

     Salah paham yang umum adalah bahwa “usia muda berarti risiko kanker rendah.” Akibatnya, banyak orang mengabaikan tanda-tanda peringatan seperti

- Darah dalam feses

- Konstipasi dan diare yang bergantian

- Penurunan berat badan tanpa sebab

- Kelelahan persisten

- Perut kembung kronis

 

 

 

Cara Memulihkan Kesehatan Usus dan Mengurangi Risiko Kanker

Usus adalah organ yang dapat pulih dengan baik jika dirawat secara tepat dan konsisten. Anda bisa memulai dengan empat prinsip utama berikut:

 

- Tingkatkan asupan serat di setiap waktu makan
     Pilih berbagai sayuran warna-warni, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan buah tinggi serat. Serat membantu meningkatkan volume feses, mempercepat pembuangan sisa makanan di usus, dan mengurangi kontak antara karsinogen potensial dengan lapisan usus.

 

- Dukung bakteri baik dalam usus
     Konsumsi yogurt alami, kimchi, atau makanan fermentasi tanpa tambahan gula membantu menyeimbangkan mikrobioma usus. Bakteri usus yang sehat berperan penting mengurangi peradangan kronis dan memperkuat sistem imun.

 

- Aktif bergerak setiap hari
     Bahkan berjalan cepat selama 20–30 menit per hari dapat merangsang gerak usus, mengurangi konstipasi, dan membantu sistem pencernaan menjaga irama teratur.

 

- Latih kebiasaan buang air besar secara teratur dan hindari menahannya
     Pergi ke toilet pada waktu yang konsisten—terutama di pagi hari setelah bangun atau sesudah makan—membantu melatih sistem pencernaan agar berfungsi lebih teratur.

 

Sumber : Thonburi Rajyindee Hospital

**Diterjemahkan dan disusun oleh Tim Konten ArokaGO

 

T
Thonburi Rajyindee Hospital

Penulis Independen

Bagikan artikel ini

Pada halaman ini
  • 1. Konstipasi Kronis yang Dianggap Normal
  • 2. Asupan Serat Rendah Namun Sering Konsumsi Makanan Olahan
  • 3. Gaya Hidup Sedenter dan Aktivitas Fisik Terbatas
  • 4. Sering Mengabaikan Dorongan Buang Air Besar
  • 5. Kesalahpahaman Bahwa Usia Muda Tidak Perlu Skrining
  • Cara Memulihkan Kesehatan Usus dan Mengurangi Risiko Kanker

Bagikan artikel ini

T
Thonburi Rajyindee Hospital

Penulis

Artikel Lainnya

Temukan lebih banyak wawasan tentang perawatan kesehatan dan wisata medis.

Apa yang harus dihindari oleh orang dengan diabetes untuk dimakan?
Mar 16, 2026•Pengetahuan

Apa yang harus dihindari oleh orang dengan diabetes untuk dimakan?

Untuk pasien diabetes, pola makan mereka tidak terlalu berbeda dari populasi umum. Penderita diabetes dapat makan secara normal namun harus melakukannya dalam jumlah yang sesuai dan berhati-hati dalam memilih makanan berkualitas tinggi sambil mengontrol porsi. Asupan harus sesuai dengan individu untuk menghindari masuknya gula berlebih ke dalam tubuh.

Depresi pada Anak-anak  Bahaya Diam yang Perlu Diketahui Orang Tua
Mar 16, 2026•Mother & Child

Depresi pada Anak-anak Bahaya Diam yang Perlu Diketahui Orang Tua

Saat ini, depresi tidak lagi hanya menjadi masalah bagi orang dewasa. Meskipun banyak orang sering berpikir bahwa anak-anak tidak memiliki hal yang perlu stres atau khawatirkan, mereka tampak ceria dan cerah di luar, tetapi di dalam mereka mungkin sedang merasakan perasaan sedih, kesepian, atau kekosongan. Penyebab depresi pada anak-anak Dipicu oleh banyak faktor seperti masalah keluarga, tekanan akademik, atau bullying, yang jika tidak ditangani dengan benar, dapat memengaruhi perkembangan dan kualitas hidup anak dalam jangka panjang.

Fobia Jarum
Mar 16, 2026•Pengetahuan

Fobia Jarum

Selama layanan pemeriksaan kesehatan di luar lokasi, salah satu situasi yang sering ditemui adalah beberapa peserta mengalami ketakutan terhadap jarum. Alasan ketakutan ini dapat bervariasi dari orang ke orang.